
Setelah Yesus diadili oleh Kayafas, mereka berbondong – bondong membawa Dia menghadap Pontius Pilatus yang merupakan seorang pejabat Romawi, kala itu menjabat sebagai Prefek (Magistrat/Kaisar) Provinsi Yudea. Ia lebih terkenal dengan sebutan awam Gubernur Provinsi Yudea. Dalam tradisi kekristenan, ia sering disebut saat umat menggaungkan Pengakuan Iman Rasuli yakni pada bagian, "yang menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus". Percakapan antara Yesus dan Pilatus ini memiliki kesan yang begitu dalam bagi pembaca, karena Yesus sendiri sekali lagi menekankan tentang otoritasNya yang ilahi.
Berikut tertulis dalam Yohanes 18: 28-40, Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan. Ketika itu hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah. Sebab itu Pilatus keluar mendapatkan mereka dan berkata: "Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?". Jawab mereka kepadanya: "Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!". Kata Pilatus kepada mereka: "Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu." Kata orang-orang Yahudi itu: "Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang.". Demikian hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati. Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: "Engkau inikah raja orang Yahudi?". Jawab Yesus: "Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?". Kata Pilatus: "Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?". Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.". Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.". Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?" (18-38b) Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya. Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?". Mereka berteriak pula: "Jangan Dia, melainkan Barabas!" Barabas adalah seorang penyamun.
Ayat – ayat Injil Yohanes ini menggambarkan secara eksplisit saat Pilatus mengatakan bahwa ia tidak menemukan kesalahan apapun pada Yesus. Yesus bukanlah ancaman ataupun penjahat. Sebagai tradisi setiap hari raya di negeri itu, Pilatus berhak untuk membebaskan satu orang narapidana. Akan tetapi, orang – orang Yahudi lebih memilih Barabas untuk dibebaskan, yang merupakan pemberontak, pembunuh, dan perampok pada jaman itu. Dalam ayat ini juga ditunjukkan bahwa pernyataan Yesus tentang kerajaan-Nya bukan dari dunia ini, maksudnya bahwa kerajaan Allah adalah kerajaan rohani, bukan kerajaan politik atau fisik. Yesus datang untuk menyatakan kebenaran. Penolakan masyarakat terhadap Yesus adalah penolakan terhadap kebenaran itu sendiri. Meskipun masyarakat menolak Yesus, rencana Allah untuk keselamatan umat manusia tetap terlaksana.
Dalam versi Inijl Matius dikisahkan lebih detail situasi pengadilan yang memanas saat itu, yakni isteri Pilatus memperingatkan suaminya untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan, tertulis dalam Matius 27: 19, Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.".
Akan tetapi tekanan publik membuat Pilatus memutuskan untuk membebaskan Barabas daripada Yesus Kristus, seperti tertulis dalam Matius 27: 20-25, Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas.". Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!". Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!" Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!". Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!"
Ayat – ayat dalam Injil Matius ini menyoroti bagaimana tekanan sosial dan manipulasi oleh pemimpin agama dapat menyebabkan orang untuk bertindak tidak adil dan menolak kebenaran. Betapa pentingnya seorang pemimpin membuat pemilihan yang bijaksana dan bertanggung jawab, karena keputusan yang dibuat dapat memiliki konsekuensi yang besar. Seperti Pilatus yang membasuh tangannya, itu adalah tindakan melepaskan tanggung jawab dan menyerahkan Yesus pada keputusan orang – orang Yahudi yang tidak adil. Namun sekali lagi, meskipun orang banyak menolak Yesus, ayat-ayat ini juga membuka jalan bagi kebenaran bahwa Allah tetap mencintai mereka dan menawarkan keselamatan melalui Yesus, bahkan setelah mereka menolak-Nya.
Dalam Injil Lukas 23: 6-11, juga tertulis bahwa Yesus sempat dibawa oleh rombongan Yahudi untuk menghadap Herodes Antipas, pemimpin wilayah Galilea. Akan tetapi, Herodes juga tidak menemukan kesalahan pada Yesus. Jadi ia pun mengembalikan Yesus pada Pilatus untuk diadili.
Kelanjutan dari putusan pengadilan Pilatus adalah Yesus dihukum sesuai permintaan rakyat Yahudi, seperti tertulis dalam Yohanes 19: 1-7, Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia. Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu, dan sambil maju ke depan mereka berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya. Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!" Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: "Salibkan Dia, salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah."
Ayat – ayat di atas menggambarkan proses Pilatus yang berusaha melepaskan tanggung jawab dan upaya orang Yahudi untuk mengorbankan Yesus. Pilatus memerintahkan Yesus dicambuk dan disiksa, menunjukkan kekosongan hukumannya karena ia tidak menemukan kesalahan pada Yesus. Meskipun Pilatus berusaha melepaskan diri dari tanggung jawab, orang Yahudi tetap menuntut kematian Yesus karena Dia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah. Hal ini secara eksplisit menggambarkan ketidakadilan yang dialami Yesus sementara orang Yahudi terus menuntut penyaliban Yesus atas dasar doktrin keagamaan mereka.
Selanjutnya ada lagi dialog antara Yesus dan Pilatus yang membuat penulis sadar bahwa otoritas Allah Bapa sungguh mutlak dan luar biasa, yang mana tidak dapat diganggu gugat oleh manusia. Bahkan penulis membaca bagian ini berulang kali untuk merenungkannnya, tertulis dalam Yohanes 19: 8-11, Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia, lalu ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan dan berkata kepada Yesus: "Dari manakah asal-Mu?" Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya. Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?" Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.". Yesus menunjukkan bahwa kuasa Pilatus berasal dari Allah, dan bahwa Pilatus adalah alat yang digunakan Allah untuk menggenapi rencana penyalibannya. Ayat-ayat ini mengajarkan tentang otoritas Allah dan rencana-Nya yang terwujud dalam penyaliban Yesus.
Kisah berlanjut pada pelaksanaan hukuman salib Yesus, seperti tertulis dalam Yohanes 19: 12-16, Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata. Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Inilah rajamu! Maka berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!" Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. (19-16b) Mereka menerima Yesus. Ayat – ayat ini menceritakan bagaimana Yesus, meskipun dinyatakan sebagai "Raja" oleh Pilatus, ditolak oleh para pemimpin agama dan diserahkan untuk disalibkan. Ayat-ayat ini menyoroti konflik antara kekuasaan sipil dan kehendak agama, serta penolakan Yesus oleh bangsa Israel.
Proses perjalanan Yesus menuju Bukit Golgota hingga disalibkan di antara dua penjahat tertulis dalam Yohanes 19: 17-24, Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah. Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi." Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani. Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi." Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap tertulis." Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian?dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu. Ayat-ayat ini menekankan ketaatan Yesus pada kehendak Bapa, yaitu dengan memikul salibNya sendiri sampai ke puncak bukit Golgota. Meskipun kondisi tubuhNya lemah dan rapuh. Penyaliban dan pembagian pakaian Yesus menggenapi nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama, khususnya Mazmur 2. dan bagaimana tindakan para prajurit menunjukkan kepedulian yang terbatas terhadap Yesus dan kehormatan-Nya, karena mereka lebih tertarik pada pakaian-Nya daripada pada hidup-Nya. Jubah Yesus yang tidak berjahit melambangkan kesempurnaan dan kesatuan Kristus. Pembagian jubah melambangkan pilihan manusia yang kadang-kadang memilih untuk mengorbankan kesatuan dan kebaikan demi kepentingan pribadi.