
Umat Katolik mengawali tri hari suci, yakni dengan perayaan misa Kamis Putih. Dalam perayaan misa dan ekaristi ini, umat diajak untuk mengenang kembali beberapa momen yang terjadi dalam perjamuan terakhir Tuhan Yesus bersama dua belas murid-Nya.
Pertama – tama, Tuhan Yesus mengajarkan tentang melayani sesama tidak mengenal jabatan ataupun kedudukan. Kita semua setara di hadapan Allah, begitu juga terhadap sesama. Seperti yang Dia katakan dalam Yohanes 13: 14, "Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”. Dia menunjukkan teladan hidup untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan mau menolong sesama dengan ketulusan hati.
Kemudian Tuhan Yesus menyempurnakan perjamuan terakhir tersebut dengan perjamuan kudus, Lukas 22: 19-20, "Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: 'Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.' Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: 'Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.”. Ayat ini menjelaskan bahwa ekaristi bukanlah sekadar simbol, melainkan Tuhan sungguh mengorbankan tubuh dan darahNya untuk pengampunan dosa dan menghindarkan manusia dari murka Allah. Serta menjadi perjanjian baru antara Allah dan umat manusia.
Selain itu, Tuhan Yesus juga memberikan perintah baru untuk diwujudnyatakan dalam kehidupan, yaitu tentang kasih. Seperti tertulis dalam Yohanes 13:34, Yesus berkata, "Suatu perintah baru Aku berikan kepadamu: Hendaklah kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu, supaya kamu juga saling mengasihi.” Perintah untuk saling mengasihi sudah ada dalam hukum Taurat (misalnya dalam Ulangan 6:5 dan Imamat 19:18). Namun, Yesus memberikan makna baru pada perintah ini dengan menetapkan standar kasih yang sangat tinggi, yaitu kasih yang sama dengan kasih yang Dia berikan kepada murid-murid-Nya. Kasih yang dimaksud adalah kasih yang rela berkorban, kasih yang tak terbatas, dan kasih yang mencakup semua orang. Mengasihi bukan hanya dalam hubungan pribadi, tetapi juga dalam komunitas gereja dan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kasih yang tulus dan nyata adalah bukti bahwa seseorang telah menerima kasih dan keselamatan dari Yesus.
Namun, malam perjamuan terakhir ini juga menjadi pengingat bahwa Tuhan Yesus tahu bahwa Dia akan dikhianati oleh salah satu murid-Nya, tertulis dalam Yohanes 13:21, 25-28, Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.". Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, siapakah itu?", Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.". Tetapi tidak ada seorangpun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti, apa maksud Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Dalam bab ini, dinyatakan bahwa Tuhan Yesus sudah tahu jika Yudas Iskariot merencanakan untuk menyerahkan Dia pada imam - imam agung Yerusalem dengan ganti harga sebesar 30 keping perak. Maka Dia memperingatkan sekaligus membiarkan Yudas Iskariot untuk melanjutkan rencana pengkhianatan itu. Dalam situasi ini, tak ada seorang murid pun yang mengetahui akan rencana pengkhianatan Yudas Iskariot pada Tuhan Yesus. Hal ini menandakan Yudas, yang telah memutuskan untuk mengkhianati Yesus, menjadi tunduk pada pengaruh Iblis. Ayat ini juga menunjukkan bahwa Yudas telah membuat pilihan dan tindakan yang akan mengarah pada pengkhianatan tersebut. Melalui ayat ini, kita diingatkan untuk selalu berhati-hati dan tidak menyerah pada godaan, serta selalu setia kepada Tuhan.
Momen penting lainnya adalah saat Petrus dan Yesus bercakap – cakap, tertulis dalam Yohanes 13: 37-38, Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!”, Jawab Yesus: "Nyawamu akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.". Ayat ini menjelaskan saat Petrus menyatakan kesetiaannya yang kuat pada Yesus, namun Yesus sudah tahu bahwa Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali sebelum ayam berkokok. Hal ini menyoroti kelemahan Petrus yang hanyalah manusia biasa, karena meski niat terbaik yang dimilikinya pun dapat gagal. Ayat-ayat ini mengingatkan kita bahwa bahkan orang yang paling setia sekalipun dapat gagal dalam kesetiaan mereka. Oleh karena itu, kita perlu terus rendah hati, mengenal diri kita sendiri, dan bersandar pada Tuhan untuk kekuatan dan dukungan dalam menghadapi tantangan hidup.